Wayang Ngawur : Palguna – Palgunadi

April 2, 2008

Arjuna yang kecilnya bernama Permadi atau Pamadi itu punya banyak nama, salah satunya Palguna. Dalam kisah ini Arjuna kita panggil sebagai Palguna.

Alkisah di suatu tempat di negeri Astina, yang merupakan negaranya para Pandawa dan Kurawa, berdiri sebuah perguruan elit nan favorit bernama perguruan Sokalima. Perguruan ini menampung siswa usia sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Rektornya sangat pintar dan terkenal bernama Profesor Durna. Karena perguruan ini elit dan favorit, maka keluarga kerajaan menyekolahkan anak-anak mereka di sini, tak terkecuali anak-anak Pandawa dan Kurawa. Mereka diajari berbagai ilmu, dari ilmu pemerintahan (karena mereka calon ponggawa kerajaan), ilmu bela diri, bisnis, sampai ilmu ekonomi (supaya bisa mengelola ekonomi negara dengan baik), ilmu komputer yang berbasis IP, sampai ilmu gaib yang berbasis tenaga dalam.
.
Dari sekian banyak mahasiswa di perguruan Sokalima, anak-anak Pandawa sangat disayang oleh rektornya, sebab mereka cerdas, menurut perintah guru (sekalipun disuruh masuk ke dasar samudra sekalipun, ibaratnya), tidak sombong, suka menolong dan segala kebaikan lainnya.

Dalam ilmu bela diri dan olah raga –khususnya memanah– Palgunalah jagonya. Dalam suatu kesempatan, semua mahasiswa pada mata kuliah memanah dikumpulkan oleh profesor Durna, kemudian ditunjuklah seekor burung di atas pohon. Satu-satu mahasiswa ditanya, apakah mereka melihat kepala burung? Semua menjawab ya, kemudian apa mereka melihat sayap? Semua menjwab ya, kemudian ditanya apa mereka melihat kaki burung itu? Semua juga menjawab ya. Hanya Palguna yang jawabannya berbeda, ketika ditanya apa melihat kepala burung, dijawab ya. Ketika ditanya apa melihat sayap? Dijawab tidak, melihat kaki, dijawab tidak juga. Artinya hanya Palguna yang konsentrasi penuh ke kepala burung. Dialah yang sangat fokus pada pekerjaan yang sedang diembannya. Dari berbagai hal tersebut, tidak heran kalau Palguna merupakan mahasiswa paling disayang oleh profesor Durna.

Syahdan, pada suatu hari –pada saat ada pendaftaran mahasiswa baru– datang seorang calon mahasiswa bernama Palgunadi mau mendaftar sebagai mahasiswa di perguruan Sokalima. Palgunadi sangat ingin menjadi mahasiswa di perguruan yang sangat favorit itu, apalagi profesor Durna merupakan idolanya sejak kecil. Nah, setelah menjalani serangkain test saringan masuk, ternyata Palgunadi dinyatakan tidak lulus tes.

Palgunadi sangat sedih karena tidak diterima jadi mahasiswa Sokalima, apalagi saat itu dia sudah punya istri nan cantik, malu jadinya. Untuk pulang ke kota asal Palgunadi sulit, sebab malu sama orang tua dan familinya. Akhirnya dia tinggal di dekat komplex Sokalima. Karena orang tuanya juga kaya, maka dia mengontrak sebuah rumah besar yang dibelakang rumahnya masih ada tanah luas. Maka dia belajar serius di rumah itu secara otodidak. Buku-buku pelajaran dari perguruan Sokalima, alat-alat olah raga –termasuk kelengkapan memanah– dibeli, dipelajari dan dilatih sendiri di rumah, dibantu oleh istrinya.
Begitu besarnya dia mengidolakan profesor Durna, dia sengaja membeli patung dan lukisan Durna yang besar saat ada pameran lukisan dan patung yang digelar mahasiswa senirupa di Sokalima. Selain mengidolakan profesor Durna, dia juga mengidolakan Palguna yang jago memanah itu. Maka di belakang rumah kontrakannya, tiap hari dia belajar memanah. Nah, sebelum mulai belajar baik ilmu pengetahuan maupaun olah raga khususnya memanah, dia selalu memberi hormat dan memohon ijin dulu ke profesor Durna, penghormatan ini dilakukannya di depan patung dan lukisan Durna, habis dia memang bukan mahasiswa Sokalima.

Dengan belajar memanah sendiri ini ternyata Palgunadi menjadi sangat piawai, berbagai kejuaraan memanah kecil-kecilan dia juarai. Dengan kemampuan ilmu pengetahuan, bela diri dan olah raga memanahnya dia tetap ingin masuk menjadi mahasiswa Sokalima, sebab kalau tidak, berarti dia tidak akan mendapat gelar sarjana dari perguruan Sokalima saat pulang kelak.

Palgunadi kemudian bergaul dengan para mahasiswa dari Kurawa. Nah, dia mulai dilirik oleh para Kurawa, siapa tahu nantinya bisa diajak memperkuat barisan Kurawa kalau suatu saat harus berhadapan dengan Pandawa. Dia mulai sering ditraktir makan, diajak jalan-jalan dsb. Palgunadipun mulai unjuk kebolehan dalam memanah di hadapan para mahasiswa Kurawa tersebut.

Unjuk kebolehan yang hebat, sekaligus membuat masalah adalah ketika suatu malam dia bersama seorang teman keluarga Kurawa mendengar lolong anjing. Anjing itu –dari lolongnya– terdengar jauh dari mereka berdiri dan berada di balik bukit di depan mereka. Palgunadi kemudian mengatakan bahwa dia sanggup memanah anjing itu. Tetntu teman Kurawanya tidak percaya, selain jauh, dibalik bukit, juga waktu itu malam hari. Kemudian dia janji kalau Palgunadi berhasil memanah anjing itu, dia mau mentarktir sate dan tongseng di warung Tegal. Palgunadi setuju, maka kemudian dia membidikkan anak panahnya melewati bukit, dengan konsentrasi penuh dan dengan kekuatan tarik tertentu supaya jatuhnya anak panah pas ke anjing.

Ternyata pada saat yang sama, yang di balik bukit adalah Samiaji alias Yudistira si sulung Pandawa sedang jalan-jalan malam ditemani anjingnya. Anjing itu menyalak karena mengendus orang tak dikenal jauh di balik bukit sana. Kemudian tiba-tiba sebuah anak panah datang dan langsung mengenai lidah anjing yang sedang mengonggong tembus ke jantungnya, maka matilah anjing milik Samiaji.
Palgunadi dan temannya segera mendatangi anjing di balik bukit, untuk membuktikan taruhan sate dan tongseng yang ternyata di sana Samiaji sedang menyesali orang yang tega membunuh anjingnya. Palgunadi menjadi salah tingkah dan dengan sopan meminta maaf. Samiaji juga segera memaafkan, karena memang dia sangat pemaaf.

Kalau Samiaji bisa memaafkan, tidak demikian halnya dengan Palguna. Dia begitu jengkel terhadap Palgunadi, pertama karena merupakan saingan berat dan rasanya dia lebih unggul dalam hal memanah, bayangkan anjing di malam hari dengan jarak yang jauh bisa dipanah dan kena lidahnya. Kedua dia merupakan duri jika direkrut oleh Kurawa nantinya. Ketiga sebentar lagi ada World Cup untuk olahraga memanah, pastilah dia jadi batu sandungan yang berat.

Setelah memikirkan strategi bagaimana menjinakkan Palgunadi, menghadaplah Palguna ke profesor Durna di suatu sore, saat yang bersangkutan sedang minum teh hangat. Setelah berbasa-basi Palguna bertanya :” Prof, sebenarnya siapa sih mahasiswa yang paling anda sayangi di perguruan Sokalima ini?”. ” Ya, jelas kamu Palguna, kamu merupakan mahasiswa yang cerdas tapi tidak sombong, perkasa tapi penurut kepada guru dan dosen”, jawab profesor Durna. “Saya tidak percaya”, kata Palguna. “Lho, lho …. tunggu dulu, sejak kapan kamu tidak percaya kepada saya Gun?”, kata prof Durna lagi. “Buktinya, diam-diam prof memberikan ilmu khusus ke Palgunadi, sehingga dia sangat hebat dalam memanah, Kalau memang sudah tidak menganggap saya lagi, saya akan keluar dari perguruan ini”, kata Palguna lagi. Prof Durna sangat terkejut mendengar kata-kata Palguna. Dia bingung, mau menyanggah sepertinya Palguna sudah dalam keadaan marah berat. Kalau Palguna benar-benar keluar dari perguruan Sokalima, wah bakal berabe, sebab mahasiswa teladan keluar dari perguruan paling favorit, tentu beritanya akan jadi santapan kuli tinta dan acara infotaintment lainnya. Ujung-ujungnya akan banyak mahasiswa yang ikutan keluar, wah bisa runyam, sebab selain bisa meruntuhkan citra Sokalima, juga berarti bantuan / sumbangan pendidikan dari kerajaan akan bisa tersendat.

Prof Durna berusaha mendinginkan suasana dengan berbagai cara, tapi Palguna tetap pada pendiriannya, dan memang itu strateginya. Setelah prof Durna kelimpungan, Palguna berkata :” Saya tidak jadi keluar dari Sokalima, kalau prof mau menuruti permintaan saya”. “Apa maumu Gun?”, tanya prof Durna. “Saya mau Palgunadi dihambat supaya tidak ikut World Cup memanah”, jawab Palguna. “Terus bagaiman caranya?”, tanya prof Durna. “Ya terserah, saya tunggu hasilnya”, bergitu kata Palguna yang segera pergi.

Sekarang prof Durna jadi pusing sembilan keliling, bagaimana caranya menghambat supaya Palgunadi agar tidak fit saat Wordl Cup Memanah nanti. Akhirnya ditemukanlah akal, salah satu jari Palgunadi harus dilukai supaya tidak bisa memanah dengan baik, sehingga akan terasa sakit saat membidikkan anak panah. Itu cukup untuk membuyarkan konsentarsi dan menghalangi dia menjuarai World Cup Memanah.

Suatu sore prof Durna memanggil Palgunadi, kemudian ditanya apakah dia masih ingin menajdi mahasiswa Sokalima, dijawab dengan ya. Prof Durna mau menerima lewat jalur khusus, tapi dengan syarat tertentu. Palgunadi bersedia memenuhi apapun syaratnya asal bisa diterima jadi mahasiswa Sokalima. Prof Durna mengatakan bahwa syaratnya adalah Palgunadi mau memberikan cincin yang dipakainya. Ini atas perhitungan prof Durna setelah melihat cincin yang dikenakan Palgunadi kekecilan, kalau diambil pastilah jarinya sedikti luka, sehingga di World Cup Memanah nanti lukanya belum sembuh dan dia akan sulit memanah dengan baik.

Palgunadi setuju degan syarat tersebut. Maka dia berusaha melepas cincinnya untuk diberikan kepada prof Durna, tapi sulit lepas dari jarinya. Dicoba berbagai cara, termasuk diminyaki tapi tetap sulit. Akhirnya prof Durna mengusulkan agar digergaji saja pelan-pelan. Palgunadi setuju, maka kemudian cincin yang ada di jari tersebut digergaji dengan gergaji besi. Egrek – egrek – egrek . .. dan bresss, cincin putus, tapi ……alamak, jari Palgunadi juga ikut putus. Yang jadi masalah pendarahan akibat jari putus itu sulit dibendung, entah kenapa, mungkin golongan darah Palgunadi kekurangan zat pembeku. Darah terus mengalir, mengalir dan terus mengalir. Dan akhirnya Palgunadi meninggal *).

Setelah Palgunadi meninggal, bergembiralah Palguna sebab saingannya telah tiada. Dia kemudian berusaha merayu istri Palgunadi yang memang cantik nan jelita, namun ternyata istri Palgunadi begitu menyayangi suaminya sehingga tidak menanggapi rayuan Palguna, apalagi suaminya juga baru saja menianggal, kuburnya juga belum kering.
Penolakan istri Palgunadi membuat Palguan jadi penasaran dan terus merayu dengan berbagai cara. Istri Palgunadi tetap menolak, sekalipun ditawari jalan-jalan ke kota besar, tinggal di hotel berbintang dan apa-apa ditanggung oleh Palguna. Dia tetap memegang prinsip, tetap profesional dan loyal, tentunya kepada mendiang suaminya, sebagai istri yang baik.
Tak tahan mendapat ‘serangan’ rayuan dari Palguna bertubi-tubi, istri Palgunadi kemudian pulang kampung yang jauh dari negara Astina supaya tidak ‘di buru-buru’ Palguna lagi. **)
Palgunapun akhirnya hanya bisa bertepuk sebelah tangan.

Wd

*) Versi dalang beneran, sewaktu Palgunadi bersedia diambil cincinnya, maka oleh Durna jari Palgunadi yang ada cincinnya sengaja dipotong. Karena di cincin itu letak ‘apes’-nya Palgunadi, maka dengan cincin terlepas, matilah dia. Sebelum meninggal dia menyimpulkan bahwa Durna sengaja membunuhnya, maka dia berkata :” Hai Durna, saya tahu anda sengaja membunuh saya. Tunggu di perang Barata Yuda nanti, di sana saya akan membalas kematian ini lewat tangan Drusta Jumpena”.

**) Versi dalang, istri Palgunadi bunuh diri karena dipaksa-paksa oleh Palguna tapi tidak mau.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.